Penyerahan Satwa Jenis Elang Hitam di Desa Sembahe,Wilayah Kerja Seksi Konservasi Wilayah II Langkat

IMG_0861

Petugas Seksi Konservasi Wilayah II Langkat melakukan himbauan dan bernegoisasi dengan oknum pemilik satwa Elang Hitam (photo credit: dede tanjung)

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDASU), sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki 3 (tiga) tugas pokok utama di bidang konservasi yakni, perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Upaya perlindungan sistem penyangga kehidupan, sebagai salah satu tugas pokok BBKSDASU, terus dilakukan secara intensif di Provinsi Sumatera Utara. Dalam melakukan upaya tersebut, BBKSDASU secara terus-menerus melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya kelestarian ekosistem sebagai indikator kesehatan lingkungan.

Namun demikian, adanya keterbatasan informasi tentang konservasi yang tersampaikan kepada masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah, sehingga kegiatan-kegiatan ilegal terkait bidang konservasi masih dapat ditemui di lapangan. Oleh karena itu, BBKSDASU menjalin kerjasama dengan para pihak untuk menggali setiap informasi pelanggaran di bidang konservasi.

Terkait hal tersebut, pada tanggal 09 Mei 2016, BBKSDASU, melalui Seksi Konservasi Wilayah II Langkat yang dipimpin oleh Herbert Aritonang, S.Sos., M.Hum., melakukan upaya penyitaan satwa liar jenis Elang Hitam (Falconidae sp.) terhadap oknum masyarakat berinisial MT di Dusun 4 Sembahe Kecamatan Sibolangit Kabupaten Karo. Upaya penyitaan ini dilakukan berdasarkan informasi yang diperoleh dari salah satu mitra kerja BBKSDASU pada minggu sebelumnya. Setelah informasi diperoleh, tim dari BBKSDASU yang diketuai oleh Herbert Aritonang dan 4 (empat) orang staf melakukan pengecekan ke lokasi yang dimaksud dan menemukan adanya satwa liar Elang Hitam yang telah dipelihara masyarakat. Tim langsung melakukan pendekatan kepada oknum masyarakat pemilik Elang Hitam dan menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukannya adalah ilegal berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). Setelah penjelasan disampaikan oleh petugas dan negoisasi dilakukan, oknum masyarakat tersebut bersedia menyerahkan Elang Hitam yang dimaksud secara sukarela kepada pemerintah yang disertai dengan berita acara serah terima. Oknum masyarakat tersebut juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya di masa mendatang.

Selanjutnya, Elang Hitam hasil penyerahan tersebut dititipkan oleh BBKSDASU kepada Kebun Binatang Medan. Tindakan ini dilakukan agar kesejahteraan satwa tersebut dapat dijamin sebelum dilakukan pelepasliaran jika dimungkinkan. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa Elang Hitam yang diserahkan tersebut sudah jinak karena telah dikurung cukup lama, sehingga perlu dilakukan rehabilitasi untuk dapat dilepasliarkan.

%d blogger menyukai ini: