Pertemuan Pembahasan Rencana Sosialisasi Pengelolaan Tumbuhan dan Satwa Liar di Areal Perkebunan dan Upaya Konservasi pada Habitatnya

IMG_0868-2 (1)

Kepala Bidang Teknis bersama Kepala Bagian Tata Usaha memimpin acara pembahasan sosialisasi (photo credit: alfianto siregar)

Dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat, pemerintah Indonesia melakukan ekstensifikasi usaha perkebunan sawit melalui konversi sebagian kawasan hutan. Untuk menjamin pembangunan perkebunan sawit yang berkelanjutan, pengelolaannya harus sesuai dengan prinsip dan kriteria RSPO (the Roundtable on Sustainable Palm Oil). RSPO merupakan inisiatif global dan multipihak mengenai pembangunan industri kelapa sawit yang berkelanjutan. RSPO bertujuan untuk mendorong pertumbuhan dan penggunaan minyak sawit berkelanjutan melalui kerjasama di dalam rantai penyedia minyak sawit dan membuka dialog antara stakeholder.

Sebagai komitmen usaha perkebunan dalam penerapan persyaratan RSPO, sektor perkebunan mengadopsi konsep High Conservation Value (HCV) atau Areal dengan Nilai Konservasi Tinggi sebagai instrumen dalam mewujudkan pengelolaan perkebunan kelapa sawit lestari. Dengan penerapan HCV, maka perusahaan perkebunan telah melakukan upaya konservasi tumbuhan dan satwa liar diluar kawasan konservasi dimana pengelolaannya wajib berkoordinasi dengan BBKSDASU. Lebih lanjut, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 11/Permentan/OT.140/3/2015 tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO), perusahaan perkebunan yang mengelola satwa langka harus memenuhi persyaratan sesuai peraturan perundangan dimana bila terdapat tumbuhan dan/atau satwa langka yang insitu, maka perusahaan perkebunan wajib melapor kepada BBKSDASU dan lokasi tersebut harus menjadi enclave.

Terkait dengan koordinasi teknis konservasi tumbuhan dan satwa liar di areal perkebunan, BBKSDASU melakukan inisiasi pembahasan sosialisasi pengelolaan tumbuhan dan satwa liar di areal perkebunan dan upaya konservasi habitatnya pada tanggal 11 Mei 2016 di kantor BBKSDASU. Acara yang dipimpin oleh Kepala Bidang Teknis BBKSDASU, Ir. Garendel Siboro, M.Si dihadiri perwakilan dari 26 perusahaan perkebunan yang berada di Provinsi Sumatera Utara. Pada kesempatan tersebut dibahas tentang tantangan dan halangan yang dihadapi oleh perusahaan perkebunan dalam penerapan HCV. Sebagai otoritas pengelolaan konservasi tumbuhan dan satwa liar di Sumatera Utara, BBKSDASU berkomitmen untuk mendukung pelaksanaan HCV oleh perusahaan perkebunan dimana setiap tantangan dan halangan yang muncul akan ditangani secara bersama-sama. Demi optimalisasi upaya konservasi di areal perkebunan, BBKSDASU akan melakukan sosialisasi pengelolaan tumbuhan dan satwa liar terhadap perusahan perkebunan di Sumatera Utara dimana konsep sosialisasinya akan disepakati bersama. Sosialisasi tersebut diharapkan dapat memberikan keluaran berupa standarisasi pelaporan perusahaan perkebunan dalam pengelolaan HCV.

%d blogger menyukai ini: