Temu Pers Penangkapan Perdagangan Ilegal Satwa Tanpa Dokumen Legal di Bandara Kuala Namu

IMG_0932

Kepala BBKSDASU, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. memberikan konfirmasi pers (photo credit: alfianto siregar)

Perdagangan ilegal satwa liar dan tumbuhan di Indonesia semakin hari skala kegiatannya semakin meningkat. Cakupan perdagangan ilegal inipun tidak hanya dilakukan secara domestik, melainkan juga secara transnasional seiring perkembangan teknologi internet. Dipandang dari nilai ekonomis, permasalahan ini telah mencapai urutan kedua setelah bisnis narkoba. Sementara dari sisi ekologis, perdagangan ilegal berpotensi merusak ekosistem penyangga kehidupan.

Sumatera Utara, sebagai provinsi dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, telah menjadi sasaran perdagangan ilegal, khususnya untuk satwa seperti trenggiling, harimau, orangutan, gading gajah dan paruh burung rangkong, dimana nilai jualnya sangat menggiurkan terutama di pasar internasional. Provinsi Sumatera utara secara geografis dinilai memiliki posisi yang strategis untuk perdagangan ilegal dengan adanya pelabuhan laut dan bandara internasional.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDASU), sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki tugas pokok utama di bidang konservasi salah satunya adalah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Dalam menjalankan fungsi perlindungannya, BBKSDASU bekerjasama dengan para pihak, khususnya dengan instansi penegak hukum, melakukan pengawasan terhadap aktivitas perdagangan satwa liar dan tumbuhan khususnya satwa liar dan tumbuhan yang dilindungi. Dalam mendukung hal tersebut, BBKSDASU secara aktif melakukan sosialisasi regulasi peredaran satwa dan tumbuhan di Sumatera Utara.

Dalam upaya pengawasan perdagangan tumbuhan dan satwa di Sumatera Utara, pada tanggal 12 Mei 2016 dini hari, BBKSDASU berhasil mengamankan 400an ekor burung jenis Love Bird, Murai Daun dan Murai Batu di salah satu kargo maskapai penerbangan di Bandara Kualanamu. Operasi pengamanan ini dilakukan setelah adanya informasi dan ditindaklanjuti dengan pengumpulan bahan dan keterangan tentang perdagangan tumbuhan dan satwa tanpa dokumen yang sah di Bandara Kuala Namu. Petugas juga berhasil mengamankan dokumen palsu yang digunakan dan akan dilakukan penyelidikan untuk pengembangan informasi lebih lanjut. Pelaku melakukan pelanggaran terhadap Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar dan nantinya akan dijerat dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

%d blogger menyukai ini: