1TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER, KEHIDUPAN BARU KUKANG

Picture1

Petugas BBKSDA Sumatera Utara sedang melakukan pelepasliaran Kukang (photo credit: dede tanjung)

Kukang atau Malu-malu (Nycticebus coucang) merupakan satwa yang aktif di malam hari (nokturnal) dan banyak beraktifitas di atas pohon (arboreal). Dapat hidup hingga usia 25 tahun dan termasuk omnivora, memakan buah-buahan, batang dan kulit kayu, laba-laba, siput serta telur burung.

Kukang dilindungi oleh negara, sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar.

Kamis, (7/4), setelah mendapat rekomendasi dari dokter hewan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL)-SOCP dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), 2 (dua) ekor Kukang dilepasliarkan ke Pos Monitoring Sikundur, Kawasan TNGL.

Kukang tersebut berasal dari penyerahan masyarakat kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Ada 6 (enam) ekor Kukang yang diserahkan masyarakat kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan selanjutnya dititipkan kepada YEL-SOCP di Pusat Karantina Orangutan Sumatera (PKOS) Batu Mbelin, Sibolangit, untuk menjalani perawatan/rehabilitasi sebelum dilepasliarkan ke kawasan hutan. 3 (tiga) ekor telah dilepasliarkan pada bulan November 2016 lalu, dan 1 (satu) ekor mati dalam masa rehabilitasi di akhir tahun 2016.

“Pertimbangan melepasliarkan kukang tersebut di Pos Monitoring Sikundur, Kawasan TNGL, agar dapat  dimonitor perilakunya  sehingga dapat dilakukan tindakan konservasinya yang lebih baik dimasa mendatang. Sebelumnya pada kukang ditanam alat GPS Collar agar bisa dimonitor posisi serta perkembangannya terpantau,” ujar Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. (Dede T)

%d blogger menyukai ini: