KONFLIK WARGA DENGAN HARIMAU SUMATERA

gtd2

Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. menyampaikan penjelasan kepada wartawan (photo credit: evansus manalu)

Tingkat konflik warga dengan Harimau Sumatera, khususnya di Propinsi Sumatera Utara, tahun 2017 (sepanjang bulan Januari s/d Juli 2017) intensitasnya cukup tinggi, demikian penjelasan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. kepada sejumlah wartawan disela-sela acara peringatan Global Tiger Day Tahun 2017, Minggu (30/7).

“Kita sangat prihatin terhadap konflik yang terjadi. Tercatat sedikitnya ada 3 kasus, diantaranya : terjeratnya seekor Harimau Sumatera di Desa Talun Singkat, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun (tanggal 5 Mei 2017), yang saat ini keberadaannya dalam perawatan di lokasi Sanctuary Harimau Barumun, kemudian satu ekor mati dibunuh warga di Dusun Indah, Desa Terang Bulan, Kecamatan Aek Natas, Kabupaten Labuhan Batu Utara (tanggal 25 Mei 2017), dan yang terakhir dua ekor mati di Desa Sihaporas, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padang Lawas (tanggal 12 Juli 2017),” papar Hotmauli.

Dari ketiga kasus, beberapa ekor dari harimau tersebut kehilangan bagian-bagian organ tubuhnya. Karena ini sudah berkaitan dengan hukum, maka Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyerahkan prosesnya kepada Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Wilayah Sumatera, demikian keterangan tambahan Kepala Balai Besar.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang kasus pembunuhan seekor Harimau Sumatera (dimana organ tubuhnya dipotong dan dibagi-bagi kepada warga) yang terjadi beberapa tahun yang lalu, Hotmauli menjelaskan bahwa penanganannya masih di Polda Sumatera Utara. Balai Besar KSDA Sumatera Utara tetap mendorong pihak-pihak penegak hukum untuk menindaklanjuti proses hukum agar ada kepastian hukum dan efek jera bagi pelaku-pelaku lainnya.

“Peringatan Global Tiger Day Tahun 2017, penting artinya sebagai momentum untuk mendorong semua pihak agar peduli dengan keselamatan dan kelestarian Harimau Sumatera, agar terhindar dari kepunahan” ujar Hotmauli mengakhiri wawancara dengan wartawan.

%d blogger menyukai ini: