PENITIPAN BURUNG CENDRAWASIH

WhatsApp Image 2017-08-12 at 16.21.22

Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan kemudian menitipkan barang bukti ke petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara (photo credit: samuel siahaan)

Upaya penyeludupan burung Cendrawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda), yang merupakan jenis satwa liar  dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, berhasil digagalkan oleh petugas Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan, pada  Kamis, 10 Agustus 2017, di Kargo Bandara Kualanamu Internasional.

Dalam Pers Releasenya, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan, Ir. Hafni Zahra, M.Sc. menjelaskan pihaknya menggagalkan upaya penyelundupan 4 (empat) ekor burung Cendrawasih, setelah melalui pemeriksaan barang kargo pesawat Lion Air JT 979, dari Surabaya (dengan nama pengirim Arick) tujuan Medan (sipenerima bernama Awaludin), di Lini 1 terminal Cargo Bandara Internasional Kualanamu. Keempat burung tersebut tidak dilengkapi dengan dokumen sertifikat karantina.

Mengingat Burung Cendrawasih merupakan jenis satwa yang dilindungi Undang-undang, pihak Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan kemudian menitipkan barang bukti tersebut ke petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Jumat, 11 Agustus 2017. Dan untuk pengamanan serta perawatannya, keempat Cendrawasih selanjutnya dititipkan di Pusat Penampungan Satwa (PPS) Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit.

Kepala Bidang Teknis pada Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Ir. Irzal Azhar., M.Si., menjelaskan, bahwa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, Cendrawasih tergolong dalam jenis satwa liar yang dilindungi. Kemudian dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa, pada pasal 34, disebutkan bahwa Cendrawasih merupakan salah satu satwa liar yang hanya dapat dipertukarkan atas persetujuan Presiden.

 Oleh karena itu, menurut pasal 21 ayat 2 jo Pasal 40 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang KSDA Hayati dan Ekosistemya, terhadap barang siapa menangkap, menyimpan, memiliki, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup, dan atau mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100 juta.

“Untuk penanganan proses hukumnya, saat ini Penyidik (PPNS) Balai Besar KSDA Sumatera Utara sedang berkoordinasi dengan Penyidik (PPNS) dari Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan. Sedangkan kelanjutan nasib keempat ekor Burung Cendrawasih ini, direncanakan akan dikembalikan ke daerah asal yaitu Propinsi Papua. Untuk itu kami sekarang sedang berkoordinasi dengan Balai KSDA Papua untuk rencana pemulangannya,” ujar Irzal mengakhiri penjelasannya.

%d blogger menyukai ini: