KONFERENSI PERS KEMATIAN GAJAH

IMG_20171025_155043

Kepala Seksi P3 BBKSDA Sumatera Utara, Amenson Girsang, sedang memberikan keterangan (photo credit: alfianto siregar)

Berkenaan dengan kematian seekor bayi Gajah di Dusun Sumber Waras Desa Sei Serdang, Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat, Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser melakukan konprensi pers, pada Rabu, 25 Oktober 2017, di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara.

Dihadapan jurnalis/wartawan dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik, Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Tri Atmojo, S.Hut., MT., didampingi Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Joko Iswanto, SP., Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Balai Besar KSDA Sumut, Amenson Girsang, SP., Plt. Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Alfianto Siregar, S.Hut., MT., M.PP, dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Okto Manik, S.Sos., menyampaikan kronologis peristiwa kematian bayi gajah tersebut.

Bermula dari laporan Kepala Dusun Sumber Waras kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara, bahwa pada Selasa, 17 Oktober 2017, sekawanan gajah liar yang berjumlah sekitar 7 s.d 12 ekor, merusak 5 bangunan rumah warga serta beberapa tanaman yang tumbuh disekitarnya.

Atas laporan tersebut Tim konflik satwa yang merupakan gabungan dari petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), WCS (Wildlife Conservation Society) dan CRU (Conservation Response Unit) Tangkahan, melakukan penegecekan ke lokasi.

Pada Sabtu, 21 Oktober 2017, siang, Tim menemukan bayi gajah dalam keadaan mati di batas kawasan dengan posisi terperosok setengah badan, dimana keempat kaki berada (terkubur) didalam tanah, sedangkan bagian punggung dan kepala saja yang tersisa.

Tim tidak dapat melakukan evakuasi, karena faktor keamanan mengingat kawanan gajah berada disekitar bangkai bayi gajah tersebut (radius 200 meter). Keesokan harinya, Minggu, 22 Oktober 2017, rombongan gajah masih berada disekitar lokasi, dan untuk menghindari konflik, Tim kemudian menguburnya dengan menimbun tanah dan segera meninggalkan lokasi.

Dusun Sumber Waras, dihuni oleh 20 Kepala Keluarga, yang seluruhnya bekerja di perkebunan kelapa sawit milik PT. Mutiara. Jarak dusun dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser ± 1 km. Kawanan gajah memang rutin melewati areal tersebut setiap 3 bulan sekali, dan masyarakat sudah terbiasa dengan kehadirannya. Konflik nyaris tidak pernah terjadi. Mengamuknya gajah diindikasikan (diduga) sebagai pemberitahuan kepada warga adanya peristiwa yang menimpa kelompok gajah tersebut.

“Kita menghimbau kepada masyarakat setempat, bila gajah-gajah tersebut kembali datang, agar jangan melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan warga maupun gajah. Segera informasikan ke petugas kami, baik Balai Besar KSDA Sumatera Utara maupun Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, untuk segera diambil tindakan,” ujar Atmojo mengakhiri penjelasannya.

%d blogger menyukai ini: