KUNJUNGAN DIRJEN KSDAE DALAM RANGKA DUKUNGAN PENYELENGGARAAN KSDA DAN KPA

Sabtu, 4 November 2017, Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Wiratno, M.Sc menandatangani nota kesepahaman dengan Rektor Universitas Sumatera Utara tentang penguatan fungsi berupa dukungan penyelenggaraan kawasan suaka alam (KSA) dan kawasan pelestarian alam (KPA) dengan pendekatan ilmiah (scientific based) untuk tujuan konservasi keanekaragaman hayati di sumatera. Selain memperkuat efektivitas penyelanggaraan KSA dan KPA, nota kesepahaman ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat serta meningkatkan sinergitas, peran dan tanggungjawab pemerintah serta perguruan tinggi dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati tropis di lansekap Sumatera.

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilaksanakan pada kegiatan International Conference on Biodiversity yang mengambil topik “Challenges of tropical biodiversity management and conservation in global change”. Konferensi internasional ini dihadiri parapihak termasuk pemerintah, institusi pendidikan, NGO, pihak swasta dll. Pada kesempatan ini, Dirjen KSDAE memberikan materi tentang upaya konservasi dan implementasinya di Indonesia. Pesan utama yang disampaikan oleh Dirjen KSDAE adalah bahwa dalam pengelolaan kawasan konservasi harus menggunakan prinsip kolaboratif dengan masyarakat dimana hal ini sejalan dengan cita-cita Presiden Joko Widodo dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Selain menghadiri konferensi internasional, Dirjen KSDAE juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke “Aek Nauli Elephant Camp (ANEC)” di KHDTK Aek Nauli. Sebagai bagian dari kegiatan Program Nasional Destinasi Wisata Danau Toba, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menghadirkan program “ANEC” yang merupakan kolaborasi dengan Balai Penelitian dan Pengembangan LHK Aek Nauli dan Vesswic. “ANEC” memiliki tujuan untuk pengawetan genetik Gajah Sumatera serta edukasi tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Dirjen KSDAE berpesan agar pengembangan “ANEC” harus menggunakan prinsip-prinsip kolaboratif serta menggunakan arsitektur yang menyatu dengan alam.

%d blogger menyukai ini: