PENYELAMATAN TAPIR

WhatsApp Image 2017-12-19 at 09.18.30

Tapir yang sudah berada di BNWS untuk direhabilitasi (photo credit: Darmawan)

Warga Kampung Kristen, Kecamatan Kotapinang, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, dihebohkan dengan penemuan satwa langka yang dilindungi undang-undang, yaitu Tapir (Tapirus indicus), pada Senin, 18 Desember 2017.

Menurut penjelasan Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Kotapinang, Dermawan, S.Hut., M.Sc., informasi awal tentang keberadaan satwa Tapir diterima dari KPH Wilayah VII, dimana satwa tersebut memasuki perkampungan  dan berhasil ditangkap warga untuk kemudian diikat.

Langkah koordinasi dengan KPH VII serta Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Labuhanbatu Selatan, ditempuh untuk melakukan upaya evakuasi pengamanan ke Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswas) Labuhanbatu Selatan.

Selanjutnya, Tim dari Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan bersama dokter hewan dari Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS) segera ke lokasi dan melihat kondisi satwa. Hasil pemeriksaan awal dokter hewan bahwa Tapir yang berkelamin jantan, berumur sekitar 4 tahun, mengalami trauma berat, luka lecet pada beberapa bagian tubuh dan kuku serta luka agak berat pada kaki kanan belakang, dan satwa dalam kondisi lemas.

Melihat kondisi tersebut, tindakan pertama dokter hewan memberikan iodine, anti radang serta anti biotik, dan berdasarkan pertimbangan medis, Tapir tersebut dinyatakan belum layak untuk direlease (dilepasliarkan). Untuk perawatan selanjutnya, dengan dibantu oleh Tim Daops Manggala Agni Langga Payung  Labuhanbatu,  Tapir dievakuasi ke BNWS pada pukul 21.00 wib.

“Kondisi lokasi ditemukannya satwa Tapir ini merupakan perkampungan yang jauh dari kawasan hutan, dan hampir keseluruhan merupakan areal perkebunan sawit dan karet. Informasi dari warga, masih sering dijumpai 2 ekor  Tapir yang kerap melintas disekitar areal”, ujar Dermawan.

Untuk itu Dermawan, menghimbau agar warga masyarakat untuk tidak melakukan tindakan atau perbuatan apapun yang dapat mencederai/melukai dan bahkan menghilangkan nyawa dari satwa tersebut, karena itu merupakan perbuatan melanggar peraturan perundang-undangan yang ada. Bila menemukan kembali keberadaan satwa Tapir, segeralah memberitahukan/menginformasikan kepada petugas Seksi Konservasi Wilayah VI Kotapinang. (Evan)

 

Hewan bertubuh besar, berbulu hitam putih, yang bernama ilmiah Tapirus indicus, pertama kali dilihat di komplek perkuburan Cina, oleh penjaga kuburan Frengki Samosir. Ketika didekati, hewan tersebut lari ke arah tembok kuburan yang bersebelahan dengan pemukiman warga, untuk kemudian melompati tembok tersebut.

Warga lingkungan Kampung Kristen yang melihatnya, segera mengejar dan melakukan penangkapan. Saat ditangkap warga, ditemukan sejumlah luka ditubuhnya, diduga akibat tergores waktu melarikan diri.

Tindakan penyelamatan awal dilakukan oleh pihak Kepolisian Sektor Kotapinang dan pihak Dinas Peternakan Pemkab Labuhanbatu Selatan dengan melakukan evakuasi ketempat Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Air Merah, Kecamatan Kampung Rakyat, Labuhanbatu Selatan, guna mendapat perawatan.

“Untuk perawatan lebih lanjut, kami membawa Tapir yang berkelamin jantan dan diperkirakan berumur 4 tahun, dengan berat badan sekitar 300 kg, ke lokasi …….. Disana Tapir tersebut nantinya akan menjalani proses rehabilitasi,” ujar Dermawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang.

Berkaitan dengan rencana pelepasliaran Tapir tersebut nantinya, Dermawan menjelaskan, masih akan dilakukan evaluasi kondisi fisik/kesehatan Tapir, serta sedang disurvey/dijajaki lokasi yang layak untuk direlease (dilepasliarkan) yang tentunya merupakan habitatnya.

Dermawan juga berharap kepada warga masyarakat dimanapun berada,  untuk tidak melakukan kegiatan/aktivitas  perburuan terhadap satwa liar, khususnya yang dilindungi undang-undang, dan bila menemukan keberadaan satwa liar tersebut, segeralah memberitahukan/menginformasikan kepada petugas Seksi Konservasi Wilayah VI Kotapinang.

%d blogger menyukai ini: