PRESS RELEASE: PENANGANAN KONFLIK HARIMAU SUMATERA DI KABUPATEN MADINA

DSC05287

Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For, sedang memberikan keterangan dalam press release (photo credit: evansus manalu)

Bermula pada Jumat, 16 Februari 2018, masyarakat Desa Hatupangan Kecamatan Batang Natal Kabupaten Mandailing Natal dihebohkan dengan adanya isu harimau jadi-jadian. Oleh karena itu, masyarakat segera mencari keberadaan harimau dimaksud di perkebunan sekitar desa. Harimau ditemukan disebuah tempat mirip gua, namun berhasil lolos dan terjadi kontak, dimana dua orang korban dari masyarakat dievakuasi ke Puskesmas Batang Natal. Salah satu korban mengalami luka cakar pada kaki dengan 46 jahitan.

Menindaklanjuti peristiwa tersebut, pada Sabtu, 17 Februari 2018, Tim yang terdiri dari pawang lokal, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Taman Nasional Batang Gadis, Koramil dan Polsek Batang Natal serta Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) IX, melakukan penyisiran lokasi dan menemukan gua serta tombak yang dipergunakan oleh masyarakat untuk berburu harimau tersebut. Patroli dan pemantauan selama beberapa hari kedepannya terus dilakukan oleh petugas Balai Taaman Nasional Batang Gadis, namun harimau tidak terlihat di lokasi.

Pada Sabtu, 24 Februari 2018, masyarakat kembali dihebohkan dengan munculnya harimau di Desa Ampung Siala, dan pada Senin, 26 Februari 2018, harimau muncul di sekitar Desa Hatupangan. Tim dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Balai Taman Nasional Batang Gadis segera menindaklanjuti dengan menuju ke lokasi. Di Desa Hatupangan terjadi penolakan oleh masyarakat terhadap petugas. Masyarakat menginginkan harimau tersebut dibunuh, dan memaksa sebagian petugas dari BBKSDA Sumatera Utara, Balai Taman Nasional Batang Gadis, KPH IX, Koramil dan Polsek mencari ke hutan untuk menembak mati harimau dimaksud. Sementara itu, 10 (sepuluh) orang petugas lainnya (dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Taman Nasional Batang Gadis dan KPH X) disekap/disandera di dalam salah satu rumah warga.

Tim mengalami pelecehan verbal dan salah satu kendaraan dinas Balai Taman Nasional Batang Gadis dirusak massa. Petugas dibawah ancaman dipaksa menandatangani kesepakatan yang isinya antara lain :

  1. Tidak menuntut jika dilakukan pembunuhan terhadap satwa buas oleh masyarakat dan aparat keamanan, demi keamanan masyarakat.
  2. Tim tidak akan datang lagi ke Desa Hatupangan dan sekitarnya, serta menyerahkan penyelesaian konflik satwa liar kepada warga masyarakat dan aparat keamanan.
  3. Meninjau kembali wilayah Balai Taman Nasional Batang Gadis dan BBKSDA Sumatera Utara di Kecamatan Batang Natal.

Balai Besar KSDA Sumatera Utara menindaklanjuti kejadian ini dengan mengirim surat kepada Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) melalui surat No. S.899/K3/BIDTEK/KSA/02/2018 tanggal 28 Februari 2018, perihal Indikasi Penyebab Konflik Harimau Sumatera di Kabupaten Mandailing Natal, yang pada intinya meminta bantuan dan dukungan untuk penyelesaian permasalahan penebangan liar yang menyebabkan konflik satwa liar langka dengan modus konflik satwa.

Pada Rabu, 28 Februari 2018, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TN Batang Gadis, Kepala Seksi Pengelolaan TN Wilayah I TNBG, berkoordinasi dengan Wakil Kepala Kepolosian Resort M andailing Natal yang hasilnya akan dilakukan pertemuan para pihak (Bupati, Camat, Kapolres, Danramil, Kapolsek, Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Balai TN Batang Gadis) untuk membahas tindak lanjut penanganan konflik Harimau Sumatera di Kabupaten Mandailing Natal pada tanggal 6 Maret 2018.

Pada Jumat, 2 Maret 2018, Kepala Balai TN Batang Gadis berkoordinasi langsung dengan Bupati Mandailing Natal dan sepakat melanjutkan skenario pemasangan kandang jebak (box trap) yang sebelumnya batal dilaksanakan karena penolakan warga. Bupati menekankan dukungan Pemkab untuk proses di lapangan. Pemasangan kandang jebak bersama-sama disepakati akan dilaksanakan setelah Camat dan Muspika berkomunikasi dengan masyarakat.

Pada Minggu, 4 Maret 2018, sekitar pukul 07.40 Wib, berdasar laporan dari Danramil Batang Natal ke Balai TN Batang Gadis bahwa Harimau Sumatera masuk ke kolong rumah warga. Balai TN Batang Gadis berkoordinasi dengan Camat Batang Natal dan Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk tindakan selanjutnya. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan segera menyiapkan peralatan untuk evakuasi Harimau Sumatera dan segera meluncur ke lokasi pukul 08.00 wib, berupa senjata bius dan kandang evakuasi. Pada saat yang bersamaan tim SRI dan dokter hewan sudah menunju ke lokasi dengan membawa Sumpit bius dan ampul untuk tujuan evakuasi.

Pada pukul 08.35 Wib, informasi dari Camat Batang Natal bahwa Harimau Sumatera sudah mati dengan perkiraan disebabkan ditombak oleh warga dan ditembak oleh anggota Polsek Batang Natal. Balai Besar KSDA Sumatera Utara berkoordinasi dengan Polres Madina dan Kodim Padangsidimpuan untuk meminta bantuan personil polsek dan koramil di lokasi guna pengamanan jasad Harimau Sumatera.

Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Balai TN. Batang Gadis tidak bisa masuk ke lokasi kejadian karena menurut petugas polsek masyarakat menolak kedatangan Tim. Tim berkoordinasi dengan Kabid Operasi Polres Madina sambil menunggu evakuasi jasad Harimau tersebut oleh Tim SRI, Dokter Hewan dari Dinas Peternakan Kabupaten Madina, Kapolsek Batang Natal dan Camat Batang Natal.

Kemudian jasad harimau di nekropsi dan hasilnya : Harimau Sumatera berjenis kelamin jantan, perkiraan umur 2-3 tahun, panjang 248 cm dan tinggi 104 cm. Kulit bagian dahi dan muka hilang, kulit dan kuku kedua kaki belakang hilang, kulit bagian ekor hilang, bekas luka tombak dan tembak pada kepala dan ada bekas luka lama pada bagian kepala dibawah telinga (lubang sebanyak 6 buah).

Sampel organ diserahkan ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk cek laboratorium, dan jasad harimau tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar di kantor Polres Madina, dengan pertimbangan untuk menghindari penyebaran penyakit.

Selanjutnya Balai TN. Batang Gadis, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Polsek Batang Natal dan Camat Batang Natal berkoordinasi dengan Bupati Madina. Hasilnya perlu penyamaan persepsi antara masyarakat dengan petugas Balai Besar KSDA Sumatear Utara dan Balai TN. Batang Gadis tentang penangann konflik satwa liar.

Demikian kronologis ini disampaikan sebagai penjelasan dan klarifikasi terhadap peristiwa penanganan konflik Harimau Sumatera dan masyarakat Kabupaten Madina.

%d blogger menyukai ini: