ANTISIPASI KEMATIAN HARIMAU, BBKSDA SUMUT BENTUK SATGAS

IMG-20180309-WA0012

Kepala BBKSDASU,  Hotmauli Sianturi, memberikan pengarahan (photo credit: dede tanjung)

Kejadian kematian Harimau Sumatera di Kecamatan Batang Natal Kabupaten Madina merupakan musibah bagi dunia konservasi. Hal ini sangat disayangkan mengingat populasi satwa liar tersebut yang semakin menurun. Penyebab utama penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh faktor manusia, seperti perambahan hutan yang menjadi habitat harimau serta aksi perburuan dan perdagangan.

Konflik antara manusia dan Harimau Sumatera yang semakin meningkat, membutuhkan perhatian serius para pihak. Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDASU), sebagai otorita manajemen konservasi di Sumatera Utara, menilai penting peran para pihak dalam penanganan konflik harimau. Untuk itu, pada hari Selasa (6/3) BBKSDASU mengundang para pihak (pemerintah dan NGO) untuk mengkoordinasikan upaya penanganan konflik harimau. Adapun para pihak yang dimaksud adalah Dinas Kehutanan Prov. Sumatera Utara, Balai Besar TN Gunung Leuser, Balai PPHLHK Wil. I Sumatera, Universitas Sumatera Utara, WCS, Scorpion, Harimau Kita, Konsorsium Barumun, OIC, FOKUS, SOCP, TIME, CI, SRI dan Kebun Binatang Medan.

Pada pertemuan ini, BBKSDASU beserta para pihak diatas sepakat untuk membentuk satuan tugas (satgas) penanganan harimau. Satgas ini akan berlokasi di Kota Padangsidimpuan sehingga memudahkan kegiatan koordinasi untuk penanganan konflik harimau. Setiap para pihak diatas akan menugaskan personelnya masing-masing seesuai dengan bidangnya, sehingga penanganan konflik dapat lebih cepat terlaksana.

Pada kesempatan ini, Kepala BBKSDASU, Hotmauli Sianturi, menegaskan agar satgas yang terbentuk dapat bekerja lebih optimal. Diharapkan agar kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dapat bersifat lebih nyata, tidak sekedar kegiatan seremoni tanpa hasil nyata di lapangan. Kedepannya diharapkan pembentukan satgas ini dapat menurunkan kejadian konflik harimau di Sumatera Utara.

%d blogger menyukai ini: