LEPASLIAR TUKIK DI PANTAI BINASI SORKAM

tukik di sorkam

Pelepasliaran tukik di Pantai Binasi Sorkam (1), Budi Sikumbang pelestari Penyu (2)

Sorkam, 21 Januari 2019

Budi Sikumbang, sosok warga masyarakat sekitar Pantai Binasi Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang peduli terhadap upaya penyelamatan dan pelestarian satwa penyu dan aksi bersih pantai. Pemuda  yang berusia 38 tahun dan berprofesi sebagai nelayan ini, mulai menunjukkan kepeduliannya berawal pada tahun 2013, dengan cara mengumpulkan telur penyu. Telur-telur itu kemudian ditetaskan pada tempat yang khusus disediakannya.

Setelah mengenal Balai Besar KSDA Sumatera Utara , dan pada tahun 2018 ditetapkan menjadi Kader Konservasi Alam, kepeduliannya semakin intens dengan pro aktif melakukan inventarisasi satwa penyu yang ada/terdapat di Pantai Binasi, yaitu sepanjang bibir pantai laut Sibolga. Dan hasilnya, pantai Binasi merupakan salah satu habitat dari penyu di Propinsi Sumatera Utara. Terdata ada 4 jenis penyu yang dilindungi dan hidup  pantai tersebut, seperti : Penyu Sisik, Penyu Hijau, Penyu Tempayan dan Penyu Lekang.

Bersama 7 (tujuh) kader konservasi alam lainnya, Budi Sikumbang membentuk masyarakat binaan yang diberi nama “Konservasi Penyu”. Mereka melakukan kerja nyata dan kerja ikhlas dengan menyelamatkan telur penyu menetaskan dan melepasliarkan ke habitatnya di laut Sibolga.

Pada Sabtu, tanggal 19 Januari 2019, dengan mengundang Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara dilakukan release yang ke 50 kali, melepasliarkan 180 ekor tukik (anak penyu) jenis Penyu Lekang (Lepidochelys  olivasea) di pantai Binasi.

IMG_0434

Tukik penyu lekang sebelum dilepasliarkan

Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., didampingi Kepala Bidang Teknis, Ir. Irzal Azhar, M.Si., Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan, Suyono, SH., bersama dengan staf lainnya, mengapresiasi kepedulian Kader Konservasi Alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara tersebut, yang secara sukarela melakukan tugas mulia menyelamatkan satwa penyu dari kepunahan.

“Ini merupakan kerja nyata seorang kader konservasi dalam upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Harapan kita karya positif ini dapat menginspirasi baik kader konservasi lainnya maupun warga masyarakat  yang ada di Sumatera Utara maupun Indonesia, untuk melakukan hal yang sama dalam  menyelamatkan dan melestarikan satwa liar lainnya,” harap Hotmauli. (Ida Marni)

%d blogger menyukai ini: