Evakuasi dan Release Lumba-lumba di Desa Kuala Beringin Kecamatan Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara

 

lumba2
Evakuasi 1 (satu) individu lumba-lumba jenis Sousa chinensis di Sungai Kualuh Hulu

Kisaran, 4 Februari 2019

Pada Minggu, 27 Januari 2019, Balai Besar KSDA Sumatera Utara mendapat informasi munculnya 2 (dua) individu lumba-lumba  di Sungai Kualuh, tepatnya di Dusun Ramean Desa Kuala Beringin Kecamatan Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara. Menindaklanjuti informasi tersebut, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar segera melakukan peninjauan lapangan guna pengumpulan data dan keterangan.

Dari hasil identifikasi Tim Bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar diketahuilah bahwa jenis lumba-lumba tersebut adalah Lumba-lumba Bongkok Indo-Pasifik (Sousa chinensis), dan titik ditemukannya berada pada posisi N 02.50344˚ dan E 099.52361˚.

Selanjutnya Balai Besar KSDA Sumatera Utara berkoordinasi dengan lembaga JAAN (Jakarta Animal Aid Network) dan Dolphin Project guna membantu proses penanganan dan penyelamatan lumba-lumba tersebut.

Pada Selasa, 29 Januari 2019, tersiar informasi bahwa 1 (satu) dari 2 individu lumba-lumba tersebut sudah tidak kelihatan (tidak muncul lagi). Informasi ini kemudian direspon oleh Tim Gabungan dari Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, JAAN, Dolphin Project, Unit KPH Wilayah V Aek Kanopan, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang dan Satker Medan, Satuan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Asahan Tanjung Balai, Dinas Pertanian Labuhanbatu Utara,  serta beberapa instansi lainnya dengan  menyusun rencana dan strategi penanganan lumba-lumba tersebut.

Hari Rabu, 30 Januari 2019, sekitar pukul 18.00 WIB, Tim mendapat informasi warga menemukan lumba-lumba yang hilang dalam kondisi mati, dengan posisi sekitar 1 km ke arah hilir dari lokasi lumba-lumba yang masih hidup. Selanjutnya Tim segera melakukan evakuasi terhadap bangkai lumba-lumba tersebut dengan menggunakan perahu boat dan membawanya ke darat.

Hasil pemeriksaan medis dari Dolphin Project, ditemukan luka-luka di sekujur tubuh bangkai lumba-lumba dan terdapat luka traumatik di bagian blowhole.  Evakuasi dilanjutkan dengan membawa dan menguburkan bangkai lumba-lumba tersebut di halaman Kantor Unit KPH Wilayah V Aek Kanopan, setelah sebelumnya dilakukan nekropsi dengan membedah perut lumba-lumba.

Sedangkan terhadap lumba-lumba yang masih hidup, dilaksanakan pada keesokan harinya, Kamis 31 Januari 2019. Proses evakuasi dimulai pukul 14.30 wib dengan cara digiring menggunakan jaring menuju ke area dangkal. Sekitar pukul 16.15 wib, setelah 18 kali percobaan, akhirnya lumba-lumba bisa ditangkap dengan jaring tanpa melukai tubuhnya. Dengan menggunakan kapal kecil, Tim mengevakuasi lumba-lumba ke darat, untuk kemudian membawanya ke lokasi perkantoran Bupati dengan kendaraan mobil pick-up.

Lokasi perkantoran Bupati dipilih untuk menghindari kerumunan massa dan agar lumba-lumba juga tidak stress. Setelah mendapatkan tindakan medis, tim medis/vet merekomendasikan agar segera dirilis di perairan payau, mengingat lumba-lumba sudah terlalu lama di air tawar serta untuk memudahkan proses adaptasi kembali dengan habitat aslinya.

Pukul 20.00 wib, Tim menuju lokasi release di Muara Tanjung Balai yang berjarak tempuh 3 jam. Pertimbangan lokasi rilis, dalam 2 minggu terakhir sering tampak rombongan lumba-lumba jenis ini di perairan Muara Tanjung Balai dan Muara Kualuh, sehingga diharapkan lumba-lumba bisa segera bertemu dengan kelompoknya.

lumba3
Pelepasliaran 1 (satu) individu lumba-lumba jenis Sousa chinensis berukuran 159 Cm berkelamin jantan di Muara Tanjung Balai, tengah malam Kamis, 31 Januari 2019.

Selanjutnya pasca release, tim masih akan terus melakukan monitoring sampai beberapa hari kedepan untuk memantau dan memastikan lumba-lumba tersebut selamat dan survive.(Presli dan Tim JAAN)