SEMARAK HPSN 2019 BALAI BESAR KSDA SUMATERA UTARA

lll
Semangat peserta pungut dan pilah sampah di kawasan TWA Sibolangit, 4 Maret 2019

Medan, 5 Maret 2019,

Hari Pedui Sampah Nasional (HPSN) pertama kali ditetapkan pada tahun 2005 bertepatan dengan terjadinya peristiwa tragedi longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada tanggal 21 Februari 2005. Insiden tersebut menjadi pemicu dicanangkannya Hari Peduli Sampah Nasional.

Tahun ini, 2019, peringatan HPSN mengambil tema Gerakan Indonesia Bersih, dengan sub tema “Kelola Sampah, Hidup Bersih, Sehat dan Bernilai”. Khusus untuk lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara, momentum HPSN 2019 diperingati berturut-turut, mulai dari tanggal 21 Februari 2019, dengan melakukan kegiatan pungut dan pilah sampah di 3 kawasan konservasi, yaitu : Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, TWA. Lau Debuk-debuk dan TWA. Danau Sicike-cike, serta dilanjutkan pada tanggal 4 Maret 2019 di kawasan TWA Sibolangit dengan kegiatan pungut dan pilah sampah, dan juga mengelola sampah dengan sistem 3 R (Reuse, Reduce dan Recycle). Sedangkan di kawasan TWA Dolok Tinggi Raja dilaksanakan kegiatan pungut dan pilah sampah.

sdfsdf
Mengelola sampah dengan bijak melalui sistem 3 R (Reuse, Reduce dan Recycle)

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc., dalam sambutan tertulisnya, yang dibacakan oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, diwakili Kepala Bidang Konservasi Wilayah I kabanjahe, Mustafa Imran Lubis, SP., menyampaikan bahwa Gerakan Indonesia Bersih merupakan salah satu komponen dari Gerakan Revolusi Mental, sebagaimana Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2016.

HPSN merupakan momentum yang sangat berharga dalam membangun kesadaran untuk menyelesaikan permasalahan sampah yang sangat pelik dan kompleks. HPSN menjadi sangat strategis diperingati setiap tahun oleh semua elemen bangsa di seluruh tanah air, jelas Menteri.

“Perhatian nasional dan internasional pada sampah juga tertuju pada sampah laut, terutama plastik, dengan segala (potensi) akibatnya kepada manusia dan satwa. Sampah plastik di laut ukuran mikro atau marine debris sangat berbahaya bagi manusia dan satwa karena mengganggu kesehatan apabila debris masuk kedalam pencernaan ikan dan masuk dalam sistem rantai pangan (food chain),” ujar Siti Nurbaya.

Lebih lanjut, Menteri mengingatkan bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah bukan semata berada di tangan pemerintah. Masyarakat sebagai penghasil sampah juga memiliki tanggung jawab dan kewajiban umum terhadap upaya-upaya pengurangan sampah dari sumbernya.

Kegiatan pungut dan pilah sampah di kawasan TWA Sibolangit, 4 Maret 2019, diikuti oleh ± 50 orang peserta, yang berasal dari : kalangan pelajar dan guru-guru SMP Negeri 2 Sibolangit, unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Sibolangit, PDAM Tirtanadi, mitra peduli konservasi alam dan lingkungan hidup (Alam Raya Nusantara dan YEL-OSCP), Kelompok Sadar Wisata Alam Sibolangit Berseri dan ASN lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara.

TWA Sibolangit dipilih sebagai pusat kegiatan peringatan HPSN Tahun 2019 mengingat kawasan ini merupakan lokasi perlintasan aliran sungai dan selokan air dari Desa Sibolangit, dimana kerap kali mengalirkan sampah plastik, botol minuman dalam kemasan dan lain-lain.

Selain itu, TWA Sibolangit sebagai lokasi/objek wisata alam  yang sebagian berbatasan langsung dengan jalan lintas Medan-Brastagi, juga sering menjadi sasaran pembuangan sampah sembarangan oleh para pengemudi kendaraan (termasuk penumpang), baik bus umum, mobil pribadi, truk maupun kendaraan roda dua yang melintasi jalan tersebut.

Dari hasil pungut dan pilah sampah, terkumpul kantongan sampah plastik seberat 61 kg, sampah botol minuman kemasan plastik seberat 8 kg, dan sampah organik (daun-daunan) sebanyak 42 kg. Diharapkan aksi peduli sampah ini tidak berhenti hanya sampai di peringatan HPSN, melainkan menjadi kesadaran untuk mengendalikan sampah setiap harinya. (Evan)