Sosialisasi Penyakit Zoonosis Virus Nipah

ZOONOGIS
Drh. Tia Zalia didampingi Kepala Bidang   Konservasi Wilayah I, Mustafa Imran Lubis, SP. saat Sosialisasi Zoonosis Virus Nipa

Sibolangit, 6 Mei 2019

Penyakit Nipah adalah jenis gangguan pada otak yang disebabkan virus Nipah. Virus ini masuk ke dalam tubuh melalui perantara hewan seperti kelelawar dan babi, ujar Kepala Bidang KSDA Wilayah I Mustafa Imran Lubis, SP., saat membuka Sosialisasi Penyakit Zoonosis, dihadapan aparat desa dan masyarakat penjual Kalong di Desa Pertampilan Kec. Pancurbatu dan Desa Bingkawan Kec. Sibolangit tanggal 2 Mei 2019.

Virus Nipah atau Henipavirus adalah genus dari keluarga Paramyxoviridae, ordo Mononegavirales, mempunyai 2 anggota yaitu Hendravirus dan Nipahvirus. Virus Nipah,  secara alami hidup di dalam tubuh dari kelelawar jenis kalong atau Pteropus sp. Meski hidup di dalam tubuh kalong, virus Nipah berada pada kondisi tidur dan tidak membunuh kelelawar.

Virus Nipah baru menyebar saat kelelawar stres akibat perubahan ekosistemnya. Pada kondisi ini virus bisa menjadi aktif dan masuk ke saluran eksresi dan juga kelenjar liur. Setelah virus aktif, kotoran dari kelelawar yang jatuh akan berisi virus Nipah. Hal yang sama juga terjadi pada buah-buahan yang dimakan oleh kelelawar. Saat buah jatuh atau kotoran berada di tanah termakan oleh hewan seperti babi, virus akan masuk.

Babi akan menjadi perantara sebelum menular ke manusia melalui kontak langsung dan udara. Selain melalui babi, virus Nipah juga bisa langsung menular dari kelelawar ke manusia, demikian penjelasan tambahan Dokter Hewan Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit Tia Zalia Batubara didampingi oleh Zakia Sheila Faradillah S.KH dan Samuel Siahaan,SP., yang turut juga dihadiri Lembaga ISCP bersama Volunteernya.

Sosialisasi selain dihadiri aparat desa,  Kepala Dusun Desa Rambung Baru dan Desa Bingkawan, juga masyarakat Penjual Kalong di Desa Bingkawan dan Rambung Baru. Tujuannya agar masyarakat mengetahui dan ikut  mencegah bahaya Penyakit Zoonosis yang  sampai sekarang belum ditemukan obatnya.

Para penjual kalong bisa saja terkena apabila tidak ada alat  pelindung diri. Hampir setiap hari mereka berinterkasi dengan kalong ketika saat memberi makan, membersihkan kandang dan bahkan memegang Kalong ketika akan dijual kepada pembeli.

Oleh karena kalong merupakan salah satu satwa liar, maka Balai Besar KSDA Sumatera Utara berkewajiban mensosialisaskan Zoonosis kepada masyarakat agar terhindar dari Virus Nipah dimasa mendatang. Kelelawar atau Kalong mengeluarkan Virus Nipah kedalam eksresi dan sekresi seperti : air liur, urin (kencing) dan kotorannya.

Virus Nipah memiliki masa inkubasi selama 4-18 hari dengan gejala klinis antara lain radang saluran pernafasan dan batuk menyerupai influenza, demam tinggi yang mendadak dan nyeri otot. Kalau kondisi sudah semakin parah, penderita akan mengalami peradangan otak (encephalitis) dengan disertai pusing, mual dan muntah, disorientasi, dan konvulsi.

Tanda-tanda dan gejala dapat berkembang menjadi koma dalam waktu 24-48 jam. Sebanyak 50% kasus infeksi klinis virus Nipah berakhir dengan kematian. Selama wabah penyakit Nipah pada tahun 1998-1999, sebanyak 265 orang telah terinfeksi virus Nipah dan sekitar 40% dari pasien yang masuk rumah sakit dengan penyakit saraf serius telah meninggal dunia.

            Penyakit Zoonosis ini ini bisa dicegah, ucap Dokter Hewan Tia Zalia, dengan cara:menghindari hewan yang diketahui atau dicurigai terinfeksi atau berpotensi terinfeksi virus Nipah, menggunakan alat pelindung saat berinteraksi dengan hewan yang berpotensi menularkan penyakit, tidak sembarangan makan buah yang jatuh ke tanah karena buah biasanya jatuh ke tanah setelah dimakan oleh kelelawar, sehingga kemungkinan liurnya menempel cukup besar.

Tidak kontak langsung dengan kalong/kelelawar baik itu yang liar atau yang dipelihara. Kemungkinan penularan melalui sentuhan atau melalui cipratan urine dan juga kotoran sangat mungkin terjadi. Bagi yang memiliki ternak khususnya babi, waspadalah dengan apa yang dimakan, jangan biarkan babi makan buah yang jatuh karena ada kemungkinan terkena liur dari kelelawar. Kalau ada babi yang terinfeksi, sebisa mungkin untuk di isolasi (dipisahkan) agar virus tidak menyebar.

Pada Kesempatan Sosialisasi Zoonosis ini, masyarakat berterima kasih atas waktu yang diberikan Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wialayh I dan berharap untuk rutin mensosialisasikan  kemasyarakat serta bermohon agar dibantu dengan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan.  (Samuel Siahaan, SP. / PEH Pertama).