RAKOR CEGAH ASF DI SUMUT

WhatsApp Image 2019-10-07 at 19.10.56.jpeg
Rapat Koordinasi African Swine Fever (ASF)

Medan, 10 Oktober 2019

Balai Besar KSDA Sumatera Utara menghadiri rapat koordinasi lokakarya tentang African Swine Fever (ASF) ataupun Demam Babi Afrika yang di laksanakan tanggal 7 – 8 Oktober 2019, di Hotel Grand Aston Jl. Balai Kota No. 1 Kesawan – Medan.

Di Sumatera Utara terdapat kurang lebih 1.2 juta populasi babi dan akhir-akhir ini banyak yang mati mendadak. ASF merupakan virus yang menyerang tubuh babi ke seluruh jaringan dan cairan tubuh yang berujung kematian. Gejala klinis yg terlihat pada babi terjadi demam tinggi dan kemerahan pada kulit bagian dada, perut, ekor dan kaki.

Virus ASF tahan terhadap desinfektan, bertahan beberapa minggu diluar tubuh, dan menempel di kendaraan, baju, dan lain-lain. ASF belum masuk ke Indonesia, namun kini keberadaan virus ini sudah mewabah di negara tetangga kita Timor Leste dan Filipina. Virus ASF ini tahan dengan suhu panas maupun dingin, sehingga virus ini beresiko bisa masuk dan dibawa oleh turis mancanegara yg berkunjung ke Indonesia.

Dilaporkan bahwa ditemukan virus ASF pada sosis dan daging asap. Virus ini tidak dapat dimusnahkan dalam daging baik itu dengan pengawetan, pengasapan maupun pembekuan. Namun ASF ini blm bersifat zoonosis yg menular ke manusia tetapi berakibat fatal pada babi. Tidak ada pengobatan dan belum  ada vaksin untuk virus ASF ini.

Penggunaan desinfektan untuk kandang babi, peralatan, alat angkut serta fasilitas lainnya tidak mampu membunuh virus ini. Selain itu virus ASF ini bisa bertahan dalam keadaan frozen selama 3 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana kuatnya virus ini bertahan dan menginfeksi.

Upaya yang dapat dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat ini adalah pemusnahan (stamping out), pengetatan peredaran dan perdagangan babi hutan (daging celeng) dengan menyesuaikan kuota dan SATS DN, penyuluhan kepada masyarakat dan koordinasi lintas sektoral.

(Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara)