CA Martelu Purba

Cagar Alam Martelu Purba sebelumnya merupakan hutan lindung yang telah ditetapkan sejak zaman kolonialisme pada tahun 1916 dalam Zeelfbesstur tanggal 8 Juli 1916, kemudian dikukuhkan oleh Panitia Tata Batas yang diangkat berdasarkan Besluit Gubernur Pesisir Timur pulau Pertja tanggal 23 Agustus 1935 No. 125/B/AZ, sesuai Proces Verbaal yang dibuat pada tanggal 20 September 1938 dengan Register No.9/SM. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No.923/Kpts/Um/12/1982 tanggal 27 Desember 1982 dinyatakan bahwa Kawasan Hutan Martelu Purba Register 9/SM yang terletak di Kabupaten Simalungun, masuk dalam Peta Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Hutan/Tata Guna Hutan Kesepakatan Propinsi daerah Tingkat I Sumatera Utara dan ditunjuk sebagai Hutan Lindung Martelu Purba. Selanjutnya, di tahun 1993 dengan Keputusan Menteri Kehutanan No.471/Kpts-II/1993 tanggal 2 September 1993, status kawasan beralih fungsi menjadi Cagar Alam.

Cagar Alam Martelu Purba secara administratif pemerintahan terletak di Desa Purba Tongah dan Kelurahan Tiga Runggu Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara.  Berdasarkan administratif pengelolaan hutan konservasi,  Cagar Alam Martelu Purba terletak di Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I yang berkedudukan di Kabanjahe,  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara. Cagar Alam Martelu Purba secara geografis terletak pada koorninat 2°53’ – 2°54’ Lintang Utara dan 98°42’ – 98°43’ Bujur Timur.  Cagar Alam Martelu Purba terletak pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Ular.  Berdasarkan letak pada ketinggian di atas permukaan laut (dpl) maka Cagar Alam Martelu Purba terletak pada ketinggian s/d 1.320 m dpl. Setelah beralih fungsi menjadi Cagar Alam, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.471/Kpts-II/1993 tanggal 2 September 1993, maka Cagar Alam Martelu Purba memiliki luas 195 hektar.

Ciri pada hutan dipterokarpus ini lapisan tanahnya sangat tipis dan akar pohon tak mampu menembus jauh ke dalam, sehingga banyak diantara pohon-pohon itu mengembangkan akar penunjang yang menopang batangnya yang tinggi dan lurus itu.  Keindahan formasi tegakan pohon meranti yang seragam, lurus dan menjulang tinggi menjadi kelebihan tersendiri dari hutan lindung ini, merupakan cerminan kekayaan nilai hutan tropis Indonesia.  Diantara tegakan pohon meranti diselingi oleh pohon aren dan jenis bambu. Fauna yang terdapat dalam kawasan Cagar Alam Martelu Purba juga tidak banyak.  Keadaan ini dapat dipahami, antara lain ditinjau dari segi kondisi letak habitat, Cagar Alam Martelu Purba merupakan kawasan yang terasing dari habitat berupa hutan lainnya.  Di sekililing Cagar Alam Martelu Purba merupakan lahan pertanian yang dikelola intensif sepanjang tahun, sehingga tidak mendukung kondisi sebagai habitat satwa liar. Jenis fauna yang ada dalam kawasan ini antara lain kambing hutan (Capricornis sumatrensis) meskipun populasinya sangat jarang namun daerah ini merupakan home range.  Satwa yang lain seperti babi hutan, monyet, kiah-kiah/hulikap, imbo, owa-owa, kera, trenggiling, berbagai jenis burung seperti burung murai, perkutut, pergam, elang, punai (atualu), ruak-ruak dan jenis lainnya.  Jenis satwa yang paling banyak terdapat di kawasan ini adalah monyet (bodat) dan kera, yang sering turun ke ladang penduduk memakan buah tanaman. Cagar Alam Martelu Purba juga merupakan sumber pengambilan humus alami.  Pola pertanian intensif dalam pengelolaan lahan/ladang yang terdapat di sekitar kawasan mensyaratkan kondisi tanah yang harus subur antara lain dengan menggunakan humus. Air Simartelu yang terdapat dalam kawasan merupakan salah satu sumber air bagi masyarakat sekitarnya khususnya Kelurahan Tiga Runggu.  Sungai ini mengalir sepanjang tahun.

%d blogger menyukai ini: