Pada dasarnya, masalah lingkungan hidup sangat berkaitan erat dengan bagaimana sifat, hakekat prilaku manusia dan etika terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup itu sendiri. Terjadinya penurunan kualitas lingkungan hidup sejatinya diakibatkan oleh perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan.

Disamping itu, menurunnya kuantitas dan kualitas SDA di Indonesia diyakini juga akibat adanya peningkatan kebutuhan masyarakat yang tinggi, sehingga menimbulkan perilaku masyarakat yang eksploitatif terhadap pemenuhan kebutuhan SDA. Oleh karena sifatnya yang luas menyangkut kepentingan masyarakat secara keseluruhan, maka upaya konservasi SDAHE merupakan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah serta masyarakat. Read More

PENYERAHAN ELANG HITAM

Untuk kesekian kalinya, warga masyarakat menyerahkan satwa liar dilindungi undang-undang. Kali ini, Asmin, warga Jln. Garuda Medan, menyerahkan 1 (satu) ekor Elang Hitam, kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Rabu, tanggal 4 Oktober 2017.

“Burung Elang Hitam, yang berusia sekitar 1 tahun, diterima dalam keadaan baik. Untuk mengetahui kondisi kesehatannya, satwa liar ini selanjutnya, pada  Kamis, 5 Oktober 2017, dititipkan di Pusat Penampungan Satwa (PPS) Sibolangit. Di tempat ini nantinya Elang tersebut akan menjalani rehabilitasi serta habituasi, dan apabila dipandang sudah layak untuk direlease, maka akan dilepasliarkan ke kawasan yang menjadi habitatnya,” ujar M. Ali Iqbal Nasution, staf Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan, yang menerima satwa tersebut.

Penyerahan si “Momo”

 Si “Momo”, seekor Siamang (Symphalangus syndactylus), berjenis kelamin jantan, berumur sekitar 2 tahun, yang selama ini dipelihara oleh Ridho Alfayul, mahasiswa, warga Belawan, pada Kamis, 14 September 2017, diserahkan kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Read More

Picture1

Sambutan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. pada acara pembukaan Kemah Konservasi, Kamis 7 September 2017, di Tahura Bukit Barisan (photo credit: evansus manalu)

Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) merupakan salah satu momentum peringatan lingkungan hidup di Indonesia. Peringatan HKAN ini pertama kali diselenggarakan pada tanggal 10 Agustus 2009, dimana Presiden RI ke-6, Soesilo Bambang Yudhoyono menetapkannya dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2009.

Penyelenggaraan Peringatan HKAN dimaksudkan sebagai upaya kampanye dan sosialisasi kepada masyarakat luas akan pentingnya konservasi alam bagi kehidupan serta kesejahteraan umat manusia. Disamping itu, juga, untuk mengedukasi masyarakat agar ikut serta (berperan aktif) dalam menjaga dan menyelamatkan ekosistem alam. Read More

PENGAMANAN ULAR PHYTON

IMG-20170904-WA0037 (1)

Ular Phyton yang berhasil diamankan (photo credit: iqbal nasution)

Bermula dari laporan seorang anggota Polmas (Polisi Masyarakat) Desa Pematang Johar, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Samsul, pada Rabu, 30 Agustus 2017, tentang keberadaan seekor Ular phyton jenis Sanca Batik disebuah rumah didesa tersebut, berukuran besar panjangnya lebih kurang 8 meter dan berumur sekitar 17 tahun. Read More

PENGAMANAN SATWA DILINDUNGI

Bermula dari informasi masyarakat tentang keberadaan beberapa jenis satwa yang dilindungi undang-undang, di lokasi Taman Rekreasi Liliwangsa, tepatnya di Nagori (Desa) Sido Tani, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun. Bermodalkan informasi tersebut, pada Jumat, 11 Agustus 2017, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, Zainuddin beserta staf, langsung meluncur ke lokasi dan menemui pemiliknya, Sdr. Tumin. Read More

PENITIPAN BURUNG CENDRAWASIH

WhatsApp Image 2017-08-12 at 16.21.22

Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan kemudian menitipkan barang bukti ke petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara (photo credit: samuel siahaan)

Upaya penyeludupan burung Cendrawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda), yang merupakan jenis satwa liar  dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, berhasil digagalkan oleh petugas Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan, pada  Kamis, 10 Agustus 2017, di Kargo Bandara Kualanamu Internasional. Read More

Picture1

Buaya dipastikan sudah mati (photo credit: darmawan)

  1. Rabu, 9 Agustus 2017 pukul 16.00 WIB, Seksi Konservasi Wilayah VI (SKW VI) Kotapinang mendapat laporan dari Kepala DAOPS Manggala Agni Labuhan Batu (Sdr. Risky Ismana Nasution SP) yang mendapatkan info dari BLH Kabupaten Labuhan Batu Selatan bahwa ada kejadian buaya yang ditangkap warga di Dusun Saruja Desa Pasir Tuntung Kecamatan Kota Pinang Kabupaten Labuhan Batu Selatan;
  2. Koordinasi dilakukan ke pemilik penangkaran UD. Alian Ruswan di Kabupaten Batu Bara untuk rencana penitipan buaya dimaksud;
  3. Kamis,10 Agustus 2017 Tim SKW VI Kotapinang (Darmawan, Eko Chandra, Azlan Arfandi N) berkoordinasi dengan BLH Kabupaten Labuhan Batu Selatan, ditemui oleh Kepala BLH Kabupaten Labuhan Batu Selatan,membenarkan bahwa memang ada buaya yang ditangkap warga dan menginfokan kepada BKSDA karena terkait penanggulangan konflik satwa liar bukan wewenang mereka;
  4. Tim segera ke lokasi, agak jauh dari jalan besar sehingga harus berjalan kaki sekitar 2 km, dan mendapatkan buaya di lokasi sudah mati;
  5. Hasil pemeriksaan kami terhadap kejadian ini adalah sebagai berikut :
    • Lokasi kejadian di Dusun Saruja Desa Pasir Tuntung Kecamatan Kotapinang Kabupaten Labuhan Batu Selatan (koordinat 1.8883581 , 100.092445) dekat dengan Sungai Barumun, berada di kebun garapan Sdr. Ucok Rakom Siregar (laki-laki,58 tahun,pekerjaan nelayan);
    • Buaya ini ditangkap dengan cara dipancing pada hari Rabu 9 Agustus 2017 karena sudah beberapa kali memangsa ternak warga (itik, ayam, dan anjing) dan warga yang pekerjaannya sebagai nelayan disitu merasa terancam jiwanya;
    • Ketika ditangkap kondisi buaya masih hidup, akan tetapi karena ada pancing yang tertinggal di dalam perut buaya mengakibatkan buaya tersebut tidak dapat bertahan dan mati.;
    • Buaya berjenis kelamin betina, panjang 3,20 m dengan perkiraan berat 80 kg.
  6. Himbauan kami kepada warga Dusun Saruju yang berada di sekitar Sungai Barumun:
  7. Supaya lebih berhati hati ketika beraktifitas di sungai karena Sungai Barumun adalah salah satu habitat buaya;
  8. Tidak sendirian ketika melakukan aktifitas di sungai;
  9. Tidak berburu, menangkap, memelihara, memperdagangkan satwa liar yang dilindungi karena bertentangan dengan peraturan;
  10. Tidak melakukan aktifitas yang dapat menyebabkan terancamnya satwa buaya, misalnya memancing dan menangkap buaya;
  11. Apabila terjadi konflik dengan buaya supaya segera mungkin menghubungi petugas BKSDA (nomor kontak Kepala SKW VI Kotapinang kami sampaikan).
  12. Atas arahan Kepala Bidang Wilayah III Padangsidimpuan setelah berkoordinasi dengan Kepala Bidang Teknis, buaya dikubur di lokasi dan dibuatkan Berita Acara Kematian dan Berita Acara Penguburan sehingga tidak jadi dititipkan ke UD. Alian Ruswan, dan selanjutnya terus dilakukan pemantauan;
  13. Berita Acara Kematian Nomor BA.813/K.3/BKWIII/KSA/8/2017 dan Berita Acara Penguburan Nomor BA.814/K.3/BKWIII/KSA/8/2017 tanggal 10 Agustus 2017.

PENYERAHAN ELANG BRONTOK

Seekor Elang Brontok, yang dipelihara warga Jln. Melati No. 307 Tanjung Anom, diserahkan kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Rabu, 9 Agustus 2017.

Ali Iqbal Nasution, staf Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, menjelaskan bahwa sebelumnya, pada Senin (7/8), petugas mendapat informasi tentang keberadaan seekor Elang Brontok yang dipelihara oleh warga. Read More

gtd2

Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. menyampaikan penjelasan kepada wartawan (photo credit: evansus manalu)

Tingkat konflik warga dengan Harimau Sumatera, khususnya di Propinsi Sumatera Utara, tahun 2017 (sepanjang bulan Januari s/d Juli 2017) intensitasnya cukup tinggi, demikian penjelasan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. kepada sejumlah wartawan disela-sela acara peringatan Global Tiger Day Tahun 2017, Minggu (30/7). Read More