BBKSDA SUMATERA UTARA

Archives

Perdagangan satwa liar illegal melalui media on-line kembali terjadi. Kali ini Kukang menjadi korban perdagangan tersebut. Seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Sumatera Utara, tertarik dengan penawaran 1 (satu) ekor Kukang melalui media on-line. Setelah tawar menawar transaksi pun terjadi di salah satu Pasar Swalayan.

Seorang warga masyarakat, LRS, beralamat di Wilayah Gaperta Medan, dengan kesadaran sendiri menyerahkan 2 (ekor) satwa dilindungi kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara, masing-masing : 1 (satu) ekor Owa/ Siamang (Hylobates syndactylus) bernama Cingku, berumur 3 tahun 8 bulan, jenis kelamin jantan, serta 1 (satu) ekor Owa Ungko/Sarudung (Hylobates agiliis) bernama Frangky, berumur sekitar 7 tahun, jenis kelamin betina.

Pada sabtu tanggal 25 Maret 2017, Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama mitra Orangutan Information Centre telah menerima satwa yang dilindungi undang-undang jenis Owa ungko  (Hylobates agilis) dari salah seorang warga masyarakat di Jalan Sei Asahan Medan. Satwa tersebut telah dipelihara selama kurang lebih 2 Tahun dalam kandang dan ditempatkan di bagian belakang rumah. Menurut pengakuan pemilik bahwa yang bersangkutan memperoleh satwa tersebut dari temannya di kabupaten Asahan.

Rabu (20/7), Tim Gabungan yang terdiri atas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDASU), Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2HLHK) Wilayah I Sumatera dan Sub Denpom I/2-3 Padangsidimpuan melakukan operasi pengamanan kawasan konservasi Suaka Margasatwa Barumun di Desa Bargotopong Kecamatan Batunadua Padangsidimpuan Kota Padangsidimpuan. Operasi

Selasa (19/7), Tim Sub Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Kepolisian Daerah Provinsi Sumatera Utara (POLDASU) bersama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDASU) melakukan penangkapan terhadap kasus peredaran satwa liar yang dilindungi jenis Trenggiling (Manis javanica) di daerah Marindal Jalan Sisingamangaraja. Adapun jumlah Trenggiling yang berhasil

Selasa (28/6) pukul 10.00 WIB, tim yang terdiri atas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDASU), Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2HLHK) Wilayah I Sumatera dan Komando Distrik Militer (Kodim) 02/01 BS menyita 1 (satu) buah eskavator

Dalam upaya perlindungan dan pengawetan keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa liar di Provinsi Sumatera Utara, pada tanggal 22 Juni 2016, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDASU) melakukan pelepasliaran satwa liar Trenggiling hasil operasi tangkap tangan Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah I Sumatera melalui unit Satuan Polisi

Perdagangan ilegal satwa liar dan tumbuhan di Indonesia semakin hari skala kegiatannya semakin meningkat. Cakupan perdagangan ilegal inipun tidak hanya dilakukan secara domestik, melainkan juga secara transnasional seiring perkembangan teknologi internet. Dipandang dari nilai ekonomis, permasalahan ini telah mencapai urutan kedua setelah bisnis narkoba.

Upaya perlindungan sistem penyangga kehidupan dan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya merupakan bagian dari tugas pokok utama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDASU). Dalam menjalankan tugas tersebut, BBKSDASU selalu menjalin kerjasama dengan parapihak seperti lembaga swadaya masyarakat, penegak hukum

Dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat, pemerintah Indonesia melakukan ekstensifikasi usaha perkebunan sawit melalui konversi sebagian kawasan hutan. Untuk menjamin pembangunan perkebunan sawit yang berkelanjutan, pengelolaannya harus sesuai dengan prinsip dan kriteria RSPO (the Roundtable on Sustainable Palm Oil). RSPO merupakan inisiatif global dan multipihak mengenai pembangunan industri kelapa sawit yang