TB Pulau Pini

Penunjukan Taman Buru Pulau Pini melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 347/Kpts-II/1996 tanggal 5 Juli 1996 seluas 8.350 Ha, membawa harapan dapat meningkatkan kesejahteraan dan mutu kehidupan masyarakat, untuk mencapai hal tersebut, maka yang perlu dikembangkan manfaat dari Taman Buru adalah pengembangan industri pariwisata alam, pendidikan, ilmu pengetahuan dan penelitian. Besar harapan kawasan yang telah ditunjuk menjadi Taman Buru ini dapat memberikan manfaat dan berfungsi sebagai perlindungan system peyangga kehidupan; kawasan pengawetan keanekaragaman hayati (kehati); kawasan pemanfaat secara lestari sumber daya alam dan ekosistemnya; sehingga bermanfaat bagi masyarakat secara luas. Oleh karena itu kawasan ini dikelola dengan mempertimbangkan aspek ekologis, teknis, ekonomis, dan sosial budaya. Secara administratif pemerintahan, TB Pulau Pini berada di empat desa yaitu Desa Labuhan Bajo, Desa Lambak, Desa Labuhan Rima dan Desa Labuhan Hiu, Kecamatan Pulau Pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan, Propinsi Sumatera Utara. Kawasan ini berada pada kawasan dataran rendah Pulau Pini dengan ketinggian antara 0 – 80 meter dpl dan berada di sisi Timur Pulau Pini. Sehingga kawasan ini pada sisi Timur berbatasan dengan garis pantai Pulai Pini. Kawasan TB Pulau Pini yang berada pada pantai Pulau Pini dan berbatasan langsung dengan kawasan hutan produksi eks HPH (Hak Pengusahaan Hutan) PT. Gunung Raya Utama Timber Industries (GRUTI), memiliki panorama pantai yang landai dan indah, dengan luas total 8.350 Ha yang terletak antara 00°04’ – 00°11’ Lintang Utara dan 98°40’ – 98°51’ Bujur Timur.

Akibat keberadaan kawasan yang terletak antara 0 – 80 meter dipermukaan laut dan berada di pantai, maka berakibat kawasan TB Pulau Pini ini memiliki formasi hutan dataran rendah dan formasi hutan pantai. Dengan demikian tidak mengherankan jika di kawasan ini terdapat keanekaragaman ekosistem yang terdapat di Taman Buru Pulau Pini, yaitu tipe ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah, hutan rawa, hutan mangrove dan hutan pantai. Kawasan ini juga menjadi penyedia jasa lingkungan terutama bagi pengatur siklus air karena di kawasan ini mengalir 12 sungai/alur yang mengalir sepanjang tahun. Sungai terbesar adalah sungai Antimunan dengan lebar ± 3 meter dan telah menjadi sumber air tawar/air minum penduduk yang bermukim di sekitar kawasan. Keadaan tanah di sekitar kawasan cukup berkwalitas, karena bersolum tinggi dengan jenis tanah latosol coklat. Tanah ini pada umumnya berasosiasi dengan andosol dan regosol, akan menghambat laju air. Sedangkan pada daerah rawa-rawa di kawasan taman buru ini terdapat lumpur vulkanik dengan bahan induk tufa amunia. Kedaan tanah ini menjadi dasar bagi perkembangan tegakan vegetasi di dalam kawasan. Dikombinasi dengan curah diatas 2.000mm/th, maka kawasan ini membuka peluang untuk berkembang menjadi habitat berbagai jenis satwa karena kawasan ini berpotensi sebagai habitat berbagai jenis tanaman dataran rendah – pantai yang menjadi produsen dari ekosistem hutan dataran rendah. Tanaman yang banyak ditemukan di kawasan hutan taman buru Pulau Pini adalah Keruing (Dipterocarpus sp.), Meranti (Shorea sp.), Malutua (Gurcinia picrorhi), beberapa jenis palem dan jenis-jenis bakau seperti Rhizophora, Avicenia dan Bruguiera. Jenis yang paling mendominasi adalah Keruing dan Meranti.  Kedua jenis ini merupakan  jenis kayu bernilai ekonomis tinggi dan diperdagangkan, sehingga sangat penting perlindungan dilakukan untuk menghindari penebangan liar di dalam kawasan ini mengingat tingginya nilai ekonomis kayu yang terdapat di dalamnya dan ekologis kawasan ini akibat adanya keduia jenis tanaman tersebut. Menilik dari potensi keragaman ekosistem di taman buru, maka perlu dikembangkan arboretum sebagai lokasi koleksi berbagai tanaman, dengan tetap mempertimbangkan factor fisik Taman Buru Pulau Pini, sehingga mampu membantu dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Sesuai dengan fungsi kawasan sebagai areal buru, maka Taman Buru Pulau Pini memiliki potensi satwa buru yaitu jenis babi hutan dan kelinci yang populasinya tinggi di kawasan ini. Tingginya jumlah populasi kedua satwa ini diyakini karena tidak adanya predator. Oleh karena itu untuk membina habitat dan populasi kedua jenis ini dapat dijadikan satwa buru. Jenis mamalia lain yang hidup di kawasan taman buru ini adalah jenis Tupai, Kera, Lutung, kancil dan mamalia kecil lainnya. Kondisi lapangan Taman Buru Pulau Pini yang sebagian besar rawa dan adanya pantai di sekitar kawasan merupakan tempat hidup yang cocok untuk jenis-jenis burung air seperti Camar dan Kuntul sehingga jenis ini banyak terdapat di kawasan Pulau Pini. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 13 tahun 1994 satwa buru dapat berupa jenis burung yang tidak dilindungi dan diatur oleh Menteri Kehutanan (Satwa buru pada dasarnya adalah satwa liar yang tidak dilindungi dan digolongkan menjadi satwa buru jenis burung, satwa kecil dan satwa besar. Satwa buru untuk setiap tempat berburu ditetapkan berdasarkan keadaan populasi dan laju pertumbuhannya). Dengan demikian di Taman Buru Pulau Pini terbuka peluang pengembangan wisata buru dengan satwa buru jenis burung tidak dilindungi, jika populasinya tinggi. Jenis reptilia yang banyak ditemukan di dalam kawasan adalah jenis ular dan biawak yang hidup dirawa rawa dan mangrove. Jenis jenis reptilia yang hidup di Taman Buru Pulau Pini adalah ular sawah, ular bakau, buaya muara, penyu dan kura kura. Menilik dari fauna yang ada di dalam kawasan, Taman Buru Pualau Pini juga membuka peluang untuk dikembangkan sebagai lokasi penelitian bagi ekosistem dataran rendah – pantai, serta penelitian bagi berbagai jenis reptil dan burung perairan. Selain hal tersebut juga peluang pengembangan wisata berburu dan pengamatan burung. Alternatif lain untuk meningkatkan potensi taman buru dapat dilakukan dengan introduksi satwa buru ke dalam kawasan taman buru. Diharapkan dengan introduksi akan mampu mengembangkan usaha perburuan di Taman Buru Pulau Pini. Oleh karena itu diperlukan mitra untuk berpartisipasi mengembangkan Taman Buru Pulau Pini.

%d blogger menyukai ini: