TELAH LAHIR LAGI ANAK GAJAH DI BARUMUN

WhatsApp Image 2018-08-01 at 10.07.16

Anak gajah yang lahir pada 29 Juni 2018 beserta induknya

Barumun, 3 Agustus 2018

Satu ekor lagi anak Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) lahir di Barumun sehingga menambah jumlah populasi gajah di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS) menjadi 15 ekor. Adapun anak gajah berjenis kelamin betina lahir pada hari Minggu tanggal 29 Juli 2018 pada pukul 23.00 WIB dengan proses kelahiran normal. Anak gajah yang berasal dari indukan betina Poppy dan indukan jantan Dwiky lahir dengan berat badan 96,49 kg tinggi badan 86 cm dan lingkar dada 107 cm. Saat ini kondisi anak gajah sehat, aktif dan sudah langsung menyusu pada induknya.

Sebelumnya, pada tanggal 16 Juni 2018 seekor anak gajah telah lahir dari induk betina Dini dan diberi nama Fitri oleh Menteri LHK. Nama fitri ini diberikan sesuai dengan  kelahiran anak gajah pada saat suasana hari raya idul fitri.

Peningkatan populasi Gajah Sumatera ini merupakan buah manis kerjasama antara BBKSDA Sumatera Utara dan BNWS yang di mulai sejak tahun 2016. Hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan upaya konservasi gajah eksitu di Provinsi Sumatera Utara. Diharapkan kelahiran anak gajah di Sumatera Utara bisa menjadi pengobat kesedihan hati akibat  kematian gajah yang baru-baru ini terjadi di Aceh (gajah bunta).

BBKSDA SUMUT saat ini mengelola konservasi gajah eksitu di 3 (tiga) tempat sebanyak 22 ekor yaitu Pusat Latihan Gajah Holiday Resort Desa Aek Raso Kecamatan Torgamba Kabupaten Labuhan Batu Selatan sebanyak 3 (tiga) ekor, Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS) Desa Batu Nanggar Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara sebanyak 15 (limabelas) ekor, Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Sipangan Bolon  Kabupaten Simalungun sebanyak 4 (empat) ekor.

Seperti diketahui bahwa status konservasi gaj ah sumatera adalah satwa dilindungi dan berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN serta tercantum dalam lampiran I CITES. Hilangnya habitat menjadi ancaman utama menurunnya populasi gajah, selain perburuan dan konflik manusia dan satwa liar gajah. Perubahan habitat meningkatkan kerentanan terhadap kelestarian populasi dimana gajah sumatera sangat tergantung pada habitat yang luas sesuai dengan tuntutan kebutuhan pakan, air dan ruang.

Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara

%d blogger menyukai ini: