CA Batu Gajah

batu-gajah

Batu Gajah awal mulanya ditetapkan sebagai tanah larangan (Natuurmonument) oleh raja-raja Simalungun melalui Zelfbestuur Besluit 1924 No. 24 tanggal 16 April 1924 sebagaimana salinan naskah yang terdapat pada lampiran dengan luas areal 0,80 ha yang diapit oleh Bah Kisat dan Bah Sipinggan. Dalam perkembangannya Batu Gajah saat ini dikenal sebagai Cagar Alam Batu Gajah yang termasuk dalam wilayah kerja Bidang Wilayah Konservasi Sumber daya Alam I Kabanjahe, Balai Besar KSDA (Konservasi Sumber Daya Alam) Sumatera Utara. Kawasan Cagar Alam Batu Gajah terletak antara 99o01’35” – 99o01’45” BT dan 02o47’30” – 02o47’33” LU dan secara administrasi pemerintahan Cagar Alam Batu Gajah terletak di Dusun Pematang Desa Negeri Dolok Kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara. Potensi utamanya adalah peninggalan sejarah berupa relief dan patung yang berbentuk binatang. Berdasarkan penelitian Susilawati (2002) dari  Balai Arkeologi Medan, peninggalan sejarah tersebut termasuk situs megalitik.

Di dalam kawasan Cagar Alam Batu Gajah terdapat berbagai jenis vegetasi, mulai dari semak, perdu hingga pepohonan dengan tipe ekosistem hutan pegunungan kering yang didominasi oleh tumbuhan daun jarum. Beberapa jenis diantaranya adalah : Tusam (Pinus merkusii), Terap (Arthocarpus sp), Pulai (Alstonia scolaris), Mahang-mahangan (Macarangan sp), Aren (Arenga sp), Bambu (Bambussa sp), Pakis-pakisan, Silopak bunga, Illalang (Imperrata sylindrica), Semak/tumbuhan perdu lainnya. Fauna yang dapat dilihat baik di dalam maupun di sekitar kawasan Cagar Alam antara lain adalah berbagai jenis burung, seperti : Burung Elang (Accipitrida sp), Burung Pelatuk (Dinopium sp), Burung Murai Batu, Burung Pipit, Burung Pergam, Burung Kutilang, Siamang (Symphalangus syndactilus) , Tikus tanah. Juga terdapat ular sawah mengingat di sekitar kawasan terdapat sawah, Jenis mamalia kecil, musang, Tupai (Sundasciurus sp), Babi hutan, kera dan jenis burung tekukur.

%d blogger menyukai ini: