CA Dolok Saut

ca-dolok-saut

Kawasan Cagar Alam Dolok Saut ditetapkan menjadi menjadi Cagar Alam dengan Kronologis Sejarah sebagai berikut :

  1. Hutan Dolok Saut direncanakan sebagai hutan tutupan (pelindung) berdasarkan surat No. 673/70 Tanggal 28 Juli 1922;
  2. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 923/Kpts/Um/12/1982 tanggal 27 Desember 1982 tentang Penunjukkan Areal Hutan di Wilayah Propinsi Sumatera Utara Seluas 3.780.132,02 ha sebagai Kawasan Hutan, bahwa Kawasan Hutan Dolok Saut Register 19 berfungsi sebagai suaka alam dengan status cagar alam;
  3. Berdasarkan GB. No. 36 Tanggal 4 Pebruari 1922 telah ditetapkan Kawasan Hutan Dolok Saut sebagai kawasan cagar alam (natuur monument) dengan luas 39 ha;
  4. Berdasarkan Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 650/458/BPSU/V/97 tanggal 31 Maret 1997 tentang Pemaduserasian RTRWP dan TGHK Propinsi Sumatera Utara, Kawasan Hutan Dolok Saut tetap dipertahankan sebagai kawasan suaka alam;
  5. Berdasarkan Peraturan Daerah Sumatera Utara No. 7 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara Tahun 2003-2018, Kawasan Hutan Dolok Saut tetap dipertahankan sebagai kawasan suaka alam;
  6. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Utara No. 21 Tahun 2001 Tahun tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tapanuli Utara Tahun  2001-2011, Cagar Alam Dolok Saut juga tetap dipertahankan sebagai kawasan suaka alam.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di Cagar Alam Dolok Saut untuk seluruh stratum pertumbuhan (semai, pancang, tiang, dan pohon) antara lain adalah Anturmangan (Dacrydium junghuhni), Hapas-hapas (Exbucklandia populnea RW), Sihondung, dan Hoting (Quercus sp.).  Namun di Cagar Alam Dolok Saut sangat sedikit dijumpai jenis-jenis anggrek baik anggrek tanah maupun anggrek pohon. Di dalam Cagar Alam Dolok Saut dapat dijumpai beberapa jenis satwa, beberapa jenis diantaranya dilindungi seperti Siamang (Hylobates sindactylus), Kambing hutan (Capricornis sumatrensis), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis) dan Kuau (Argosianus argus)

%d blogger menyukai ini: