TWA Lau Debuk-debuk

Pada awalnya kawasan ini memiliki status Cagar Alam berdasarkan keputusan Raja Deli tanggal 30 Desember 1924, yang kemudian dirubah statusnya menjadi taman wisata alam melalui surat keputusan Menteri Pertanian nomor 320/Kpts/Um/5/1980 tanggal 9 Mei 1980 dengan luas 7 hektare. Pada kawasan taman wisata ini terdapat sumber mata air panas yang mengandung belerang. Potensi kawasan ini sangat baik untuk dikembangkan sebagai pusat rekreasi, pendidikan, pariwisata dan budaya yang kemudian kawasan Cagar Alam ini diubah menjadi Hutan Wisata. Kawasan TWA Lau Debuk-debuk secara administratif pemerintahan berada di Desa Doulu Kecamatan Berastagi, Kabupaten Tanah Karo. Pengelolaan TWA Lau Debuk-debuk berada dibawah pengelolaan Seksi Konservasi Wilaya I Sidikalang, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara. Desa terdekat dengan kawasan TWA Lau Debuk-debuk adalah Desa Doulu,Kecamatan Berastagi, Kabupaten Tanah Karo yang memiliki ± 2088 KK dengan luas desa 3,5  (BPS, 2009). Letaknya yang berada d jalur lintas propinsi Medan – Aceh membuat daerah ini agak lebih maju kebudayaannya termasuk juga kelengkapan sarana prasarana pendukung kehidupan seperti tempat peribadatan, sarana kesehatan dan pendidikan. Masyarakat setempat menganggap kawasan TWA Lau Debuk-debuk sebagai tempat keramat/disucikan. Pada hari-hari tertentu masyarakat karo penganut aliran kepercayaan (animisme) melalukan acara erpangir (mandi bersihkan diri dengan air bunga). Penganut kepercayaan ini lebih dikenal dengan sebutan “Kalak Pemena”.

Jenis-jenis vegetasi yang terdapat dalam kawasan TWA Lau Debuk-debuk adalah Pinus merkusii, Altingia exels, Schima wallichii, manglitia glauca, Dacridyum junghunii, Quercus benetti, Ficus fistulosa, Euginea sp, Ochrosia sp, Pteleccarpus lampongus. Jenis fauna asli yang mendiami TWA Lau Debuk-debuk adalah burung kutilang, murai jalak, tupai, monyet ekor panjang, musang, dan ular sawah. Potensi lainnya adalah potensi jasa lingkungan dan wisata alam. Letaknya yang berada di kaki Gunung Sibayak, TWA Lau Debuk-debuk dekat dengan sumber panas bumi yang juga dimanfaatkan oleh pihak swasta untuk mengelola aliran panas bumi (geothermal). Pemandian air panas dan sumber pengobatan alternatif untuk berbagai penyakit kulit menambah deretan potensi jasa lingkungan yang dihasilkan kawasan ini selain pemandangan alam yang indah, udara segar dan sejuk. Selain itu potensi keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa yang tinggi pada kawasan ini perlu diteliti dan dikembangkan mengingat kekhasan kawasan ini sebagai kawasan dataran tinggi pegunungan selain sebagai tempat untuk pegunungan selain sebagai tempat untuk rekreasi alam/ekowisata.

%d blogger menyukai ini: