TWA Sijaba Hutaginjang

Secara administratif pemerintahan, TWA Sijaba Hutaginjang berada di tiga desa yaitu Desa Silando, Huta Ginjang dan Desa Sitanggor, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara. Kawasan ini berada pada ketinggian 960 – 1095 meter dpl dan berada sekitar 4 km dari tepian Danau Toba yang merupakan salah satu keunikan dunia. Kawasan TWA Sijaba Hutaginjang yang berada di atas Danau Toba ini terdiri dari dua fragmen/kelompok kawasan hutan dengan total luas ± 500 Ha. Namun kedua kawasan tersebut menjadi satu kesatuan yang disebut dengan Taman Wisata Alam Sijaba Hutaginjang dan menjadi satu pengelolaan.

Kawasan Taman Wisata Alam Sijaba Hutaginjang berada di Kecamatan Muara yang tergolong masih berpenduduk jarang, mengingat dari data statistik tahun 2001, Kecamatan ini memiliki kepadatan sebesar ± 5 jiwa/km², dimana luas Kecamatan yang berada di pinggiran Danau Toba ini adalah 117,65 km². Sebagian besar penduduk Kecamatan Muara terutama yang berada di sekitar kawasan Taman Wisata Alam Sijaba Hutaginjang menggantungkan hidupnya dari bertani, baik bertani di sawah, ladang palawija, maupun kebun tanaman keras. Bertani di ladang basah (sawah) tanaman utama adalah padi dan bawang merah. Sedangkan palawijanya yang menjadi primadona adalah kacang tanah, jagung, ubi jalar dan ubi kayu/singkong. Untuk tanaman keras yang menjadi andalan dari kebun adalah kopi, kemiri dan kelapa. Interaksi masyarakat sekitar kawasan dengan Taman Wisata Alam Sijaba Hutaginjang cenderung tinggi. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya salah satu badan usaha dalam bentuk koperasi yang melakukan kegiatan budidaya tanaman karet di dalam kawasan tanpa ijin. Selain hal tersebut, masyarakat di sekitar kawasan apresiasinya terhadap konservasi sumber daya alam cukup bagus, dibuktikan dengan harapan agar kawasan Taman Wisata Alam Sijaba Hutaginjang segera dikelola dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar yang sebagian besar berpendapatan rendah. Hal tersebut di atas kemungkinan salah satu dampak dari lahan yang margin sehingga pendapatan masyarakat dari hasil bumi rendah. Dengan demikian, diharapkan ada alternatif pendapatan masyarakat yang bersumber dari luar bercocok tanam, misalnya dari pengembangan pariwisata alam. Keinginan masyarakat untuk segera dikembangkannya pengelolaan dengan membangun sarana prasarana wisata hasil dari melihat saudara mereka yang berada di Parapat yang mampu mengantungkan hidup dari usaha di bidang pariwisata.

Tanaman pioner yang berupa pinus-pinusan yang banyak terdapat pada dataran tinggi, semak, kaliandra, ilalang dan sebagainya mendominasi kawasan ini akibat kurangnya pasokan unsur hara dan rendahnya kelengasan tanah. Namun pada bagian sisi Barat Laut dari Kawasan Hutaginjang terdapat sekelompok tanaman Pinus/Tusam (Pinus merkusii). Menilik dari rendahnya jenis tanaman habitus pohon, maka kawasan Taman Wisata Alam Sijaba Hutaginjang dapat sebagai lahan penunjang budidaya tanaman Pinus, dan perlu dikembangkan arboretum sebagai lokasi koleksi berbagai tanaman, dengan mempertimbangkan faktor fisik Taman Wisata Alam Sijaba Hutaginjang, sehingga mampu membantu dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Tanaman semak dan perdu di kawasan ini membuka peluang menjadi habitat berbagai jenis serangga untuk berkembang biak. Sesuai kaidah piramida makanan, ada sumber pakan maka akan ada predator. Oleh karena itu kawasan yang menjadi habitat serangga ini juga menjadi habitat bagi burung – burung kecil pemakan biji  serta serangga. Selain itu juga terdapat burung Elang karena di kawasan  ini  juga  terdapat  binatang  kecil  pengerat seperti tikus, juga beberapa jenis reptil. Menilik dari fauna yang ada di dalam kawasan, Taman Wisata Alam Sijaba Hutaginjang membuka peluang untuk dikembangkan sebagai lahan penelitian bagi ekosistem dataran tinggi dengan iklim kering, serta penelitian bagi berbagai jenis serangga dan burung kecil pemangsa serangga/biji. Selain hal tersebut juga peluang pengembangan wisata pengamatan burung. Alternatif lain adalah membangun kebun burung yang mampu menampung berbagai jenis burung yang berada di Taman Wisata Alam Sijaba Hutaginjang, sehingga mampu menjadi daya tarik dan sumber gen berbagai jenis burung dari dataran tinggi. Oleh karena itu diperlukan mitra untuk berpartisipasi mewujudkan hal tersebut.

TWA Sijaba Hutaginjang berada pada areal yang belum mengalami pencemaran udara; berada dalam deretan Pegunungan Bukit Barisan; berada pada ketinggian di atas 900 mdpl, maka kawasan ini akibat ketiga hal tersebut memiliki udara yang sejuk dan suasana yang tenang. Selain hal tersebut, kawasan ini juga berpotensi untuk dikembangkan karena potensi lain yang dimiliki kawasan ini seperti obyek wisata sekitar kawasan. Berkaitan dengan upaya pengembangan kepariwisataan alam, potensi yang penting adalah letak kawasan ini yang berdekatan dengan obyek wisata lain yaitu yang berada di radius 10 – 15 km adalah lokasi panorama Hutaginjang, dari lokasi ini kita dapat memandang bebas Pulau Samosir, Pantai Balige, Pantai Muara dan areal persawahan di pinggiran Danau Toba. Selain itu juga berdekatan dengan Istana Sisingamangaraja, Tobak gulu-gulu, dan tempat makam Raja Sisingamangaraja ke XII. Terdapat rencana pengembangan Pulau Pardepur/Sibandang, untuk dijadikan pusat wisata dan hiburan ekslusif oleh Pemerintah Kabupaten Toba Samosir yang berada ± 4 km dari kawasan. Merupakan bagian dari jalur wisata Danau Toba (Parapat)–Tarutung–Sipirok–Taman Nasional Batang Gadis–Sumatera Barat. Selain itu Tapanuli juga merupakan daerah yang memiliki keunikan tinggi di Sumatera Utara, baik karena kultur budayanya maupun karena sumber daya alam yang dimiki. Oleh karena itu dari masa ke masa, Tapanuli khususnya Kabupaten Tapanuli Utara telah banyak dikunjungi oleh pengunjung dari berbagai daerah bahkan dari berbagai negara. Mereka melakukan kunjungan ke Tapanuli Utara dalam rangka pengembangan usaha dan untuk rekreasi. Pengunjung manca negara dalam satu tahun yang terdata rata rata antara 100 – 200. Menilik tingginya pengunjung yang datang ke Tapanuli Utara sebenarnya juga merupakan potensi untuk  pengembangan TWA Sijaba Hutaginjang.

%d blogger menyukai ini: